Banjir ROB Pesisir Aceh Utara Menggenangi Huntara dan Mengganggu Aktivitas Warga

Banjir ROB yang melanda pesisir Kabupaten Aceh Utara telah menimbulkan dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat setempat. Dengan tingginya curah hujan dan kondisi laut yang tidak menentu, beberapa desa di wilayah tersebut mengalami genangan yang cukup parah. Di antara desa-desa yang terdampak, Desa Kuala Keureutoe dan Desa Lhok Pu’uk menjadi sorotan utama karena permasalahan yang dihadapi oleh penduduknya, terutama terkait dengan tempat tinggal sementara yang disediakan bagi korban bencana sebelumnya.
Dampak Banjir ROB di Desa Kuala Keureutoe
Di Desa Kuala Keureutoe, genangan air akibat banjir ROB telah merendam 20 unit Hunian Sementara (Huntara) yang diperuntukkan bagi warga yang kehilangan rumah akibat bencana banjir bandang yang terjadi pada November 2025. Akses jalan menuju desa tersebut juga terimbas, membuat mobilitas warga menjadi terhambat.
Geuchik Kuala Keureutoe, M. Kaoy Amin, mengonfirmasi bahwa hingga Senin (18/05/2026), genangan air masih mengancam Huntara di desanya. Kenaikan pasang laut yang mencapai ketinggian 60 centimeter mulai terjadi pada pagi menjelang siang hari.
“Sejak banjir ROB ini terjadi, Huntara kami terendam, dengan ketinggian air yang cukup signifikan. Saat ini, kondisi itu masih berlangsung,” ungkap M. Kaoy Amin kepada tim investigasi setempat.
Huntara yang dibangun sebagai bantuan pemerintah bagi para korban bencana sebelumnya kini mulai ditinggalkan oleh penghuninya. Mereka terpaksa mencari tempat yang lebih aman hingga genangan air surut.
Kondisi di Desa Lhok Pu’uk
Sementara itu, di Desa Lhok Pu’uk, Kecamatan Seuneuddon, Geuchik Razuli menyatakan bahwa banjir ROB sudah menjadi masalah yang berulang. Meskipun bukan hal baru, kerusakan yang ditimbulkan tetap mengkhawatirkan, terutama terhadap rumah dan infrastruktur akses jalan.
“Sejak tahun 2022, banjir ROB ini sering terjadi, dan dampaknya semakin parah. Kami selalu dihadapkan pada masalah ini setiap tahun, terutama dalam dua hari terakhir,” kata Razuli.
Dia mencatat bahwa sejak tahun 2022 hingga 2026, puluhan rumah warga mengalami kerusakan akibat banjir. Bahkan, Dusun Barat di desa tersebut hampir hilang karena abrasi yang dipicu oleh banjir ROB.
- Kejadian banjir ROB yang berulang sejak 2022
- Puluhan rumah mengalami kerusakan
- Dusun Barat terancam hilang akibat abrasi
- Infrastruktur jalan terpengaruh
- Sekitar 142 Kepala Keluarga (KK) terdampak pada kejadian kali ini
Razuli juga menekankan pentingnya tindakan segera dari pemerintah. Ia bersama warga mendesak perlunya pembangunan batu jeti sebagai solusi untuk menanggulangi masalah tersebut.
Prediksi Cuaca dan Dampak Pasang Purnama
BMKG Malikussaleh Aceh Utara memprediksi bahwa fenomena pasang purnama masih akan berlangsung hingga 20 Mei 2026. Istilah “Pasang Purnama” dalam ilmu oseanografi dikenal sebagai Spring Tide, yang tidak hanya terjadi saat bulan purnama, tetapi juga saat fase bulan baru.
Prakirawan BMKG Malikussaleh Aceh Utara, Kharendra Muiz, menjelaskan bahwa pada tanggal 17 Mei 2026, bulan berada pada fase bulan baru. Pada fase ini, posisi Bumi, bulan, dan matahari berbaris dalam satu garis lurus.
“Gaya tarik gravitasi dari bulan dan matahari secara bersamaan menghasilkan pasang air laut yang paling tinggi. Ditambah lagi, gelombang laut yang cukup signifikan dengan ketinggian antara 0.2 meter hingga 1.2 meter,” terang Kharendra.
Dengan kondisi tersebut, pasang laut dengan intensitas tinggi ini diperkirakan akan terus berlanjut selama tiga hingga empat hari ke depan, yaitu hingga tanggal 19 atau 20 Mei 2026.
Setelah tanggal 20 Mei, level pasang tertinggi harian diprediksi akan berangsur-angsur normal dan menurun seiring dengan menjauhnya posisi bulan dari garis lurus Bumi-Matahari.
Kesimpulan dan Tindakan yang Diperlukan
Banjir ROB yang melanda pesisir Aceh Utara, terutama di Desa Kuala Keureutoe dan Desa Lhok Pu’uk, menunjukkan pentingnya mitigasi bencana yang lebih baik. Dengan meningkatnya frekuensi kejadian banjir, masyarakat setempat dan pemerintah perlu bekerja sama untuk merencanakan solusi jangka panjang yang efektif. Salah satu langkah yang bisa diambil adalah pembangunan infrastruktur yang tangguh untuk meminimalisir dampak dari bencana alam yang tidak terduga.
Dalam situasi seperti ini, dukungan dari berbagai pihak—baik pemerintah, masyarakat, maupun organisasi non-pemerintah—akan sangat diperlukan untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan warga yang terdampak. Dengan upaya bersama, diharapkan bencana serupa di masa depan dapat diminimalisasi, dan kehidupan masyarakat Aceh Utara akan kembali normal secepatnya.