Jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Padang Laksanakan Salat Idulfitri Hari Ini Bersama Khatib Muda

Di tengah ketenangan pagi, di kawasan Lubuk Sarik, Padang Besi, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatra Barat, puluhan jemaah tarekat Naqsabandiyah menggelar salat Idulfitri 1447 Hijriah pada Rabu (18/3/2026). Mereka merayakan lebaran lebih awal dibandingkan dengan keputusan resmi pemerintah yang menetapkan hari raya Idulfitri.
Salat Id yang dipimpin oleh Khatib Muda
Salat Id yang dimulai pukul 08.00 hingga 09.00 WIB tersebut memiliki nuansa khusus. Salah satu alasan utama adalah karena pemimpin salatnya, seorang khatib muda berusia 20 tahun, Riski Rafandi. Riski tidak hanya berperan sebagai jemaah, namun juga dipilih untuk berdiri di mimbar dan menyampaikan khutbah raya di hadapan para jemaah yang memenuhi masjid.
Penyampaian Khutbah dalam Bahasa Arab
Riski menyampaikan khutbahnya dengan bahasa Arab yang fasih, menunjukkan komitmennya pada tradisi literasi klasik yang telah dipelihara oleh jemaah Naqsabandiyah dari generasi ke generasi. Dia menjelaskan bahwa penetapan tanggal 1 Syawal bagi jemaah mereka dilakukan berdasarkan perhitungan yang matang menggunakan Kitab Munjid (Munjib).
Penentuan Waktu Ibadah
Riski menjelaskan bahwa jemaah di Lubuk Kilangan telah memulai ibadah puasa Ramadan sejak tanggal 16 Februari. Dengan demikian, pada hari ini, puasa mereka sudah mencapai jumlah sempurna, yaitu 30 hari. Penetapan waktu ibadah ini, menurut Riski, adalah hasil dari penggabungan metode yang diwariskan oleh para ulama tarekat, termasuk hisab, rukyah, serta berpegang teguh pada dalil, ijma, dan qiyas.
Metode Hisabul Rukyat
Metode Hisabul Rukyat yang digunakan bukan hanya berdasarkan perhitungan astronomi tradisional di atas kertas, tetapi juga mencocokkannya dengan fenomena alam yang dapat diamati. Perpaduan antara hitungan matematis dan pengamatan fisik hilal ini dianggap sebagai cara yang paling akurat oleh jemaah untuk menentukan pergantian bulan hijriah.
Perbedaan Waktu Lebaran dengan Pemerintah
Meskipun pelaksanaan lebaran kali ini terjadi lebih awal dibandingkan dengan kalender resmi pemerintah, tokoh masyarakat setempat menekankan bahwa perbedaan ini bukanlah suatu ajakan untuk berselisih atau memicu konflik. Keputusan ini ditegaskan sebagai bentuk menjalankan tradisi dan keyakinan spiritual yang telah lama berakar kuat di tengah komunitas Naqsabandiyah di Kota Padang.
Perbedaan Internal di Antara Kelompok Tarekat
Menariknya, terdapat perbedaan internal di antara kelompok tarekat. Riski menjelaskan bahwa jemaah Naqsabandiyah di Surau Baru Pauh baru mulai berpuasa pada tanggal 17 Februari. Hal ini berarti bahwa jemaah di Pauh mungkin baru akan menyelesaikan puasa 30 hari dan merayakan Idul Fitri pada hari berikutnya. “Perbedaan ini bukan untuk perpecahan. Ini adalah bagian dari ketaatan kami pada guru-guru dan kitab rujukan yang kami pelajari secara mendalam,” tambah Riski.
Pelaksanaan Salat Id di Masjid
Di sisi lain, Imam Masjid, Defra Dika, memastikan bahwa seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar dengan kondisi masjid yang penuh dengan jemaah yang datang dari berbagai sudut Lubuk Kilangan. Meski masih sangat muda, Riski Rafandi memiliki tanggung jawab besar sebagai khatib dalam pelaksanaan salat Idul Fitri 1447 H bagi puluhan jemaah Tarekat Naqsabandiyah.
Profil Riski Rafandi
Riski Rafandi adalah seorang mahasiswa semester empat di Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Sesuai dengan peran religiusnya di masyarakat, Riski mengambil program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) di universitas tersebut. Di hadapan puluhan pasang mata, mahasiswa PAI ini menyampaikan khutbah raya dengan tetap menjaga tradisi literasi klasik yang dipertahankan jemaah secara turun-temurun.
Pengabdian kepada Komunitas Tarekat
Riski menuturkan bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya merupakan bagian dari proses belajar dan pengabdian kepada komunitas tarekat. Dalam penyampaiannya, Riski menjelaskan bahwa penetapan 1 Syawal bagi jemaah Naqsabandiyah didasarkan pada perhitungan matang menggunakan Kitab Munjid (Munjib). Menurutnya, jemaah di Lubuk Kilangan telah memulai ibadah puasa Ramadan sejak tanggal 16 Februari lalu, sehingga hari ini puasa mereka genap 30 hari.
Penyebaran Tarekat Naqsabandiyah di Kota Padang
Surau Baru menyimpan jejak panjang pengembangan Tarekat Naqsabandiyah di Kota Padang, Sumatera Barat. Bangunan ini juga menjadi saksi bisu bagaimana ajaran spiritual dari Makkah berlabuh dan mengakar kuat di tanah Minangkabau. Kisah ini dimulai sejak awal abad ke-20.
Syekh Muhammad Thaib
Sosok sentral di balik berdirinya Surau Baru adalah Syekh Muhammad Thaib. Ulama yang hidup pada rentang tahun 1870 hingga 1944 ini merupakan pionir yang membawa napas baru bagi kehidupan beragama di kawasan Pauh. Syekh Muhammad Thaib bukanlah orang sembarangan. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun menuntut ilmu agama di tanah suci Mekkah sebelum akhirnya memutuskan kembali ke kampung halaman pada tahun 1905 untuk menyebarkan ilmu yang ia dapat.
Pembangunan Surau Baru
Setahun setelah kepulangannya, tepatnya pada 1906, ia mulai mengenalkan ajaran Tarekat Naqsabandiyah. Awalnya, aktivitas keagamaan ini ia pusatkan di Surau Kandang, yang tak lain adalah rumah milik sang istri. Namun, setelah istrinya meninggal, Syekh Muhammad Thaib merasa canggung dan tersisih di lingkungan keluarga mendiang istrinya. Perasaan ini membuatnya sempat berniat untuk meninggalkan tanah Minang.
Keputusan untuk Merantau
Pada suatu bulan Muharram, Syekh Muhammad Thaib menyampaikan niatnya kepada para tokoh adat atau niniak mamak setempat untuk merantau ke Malaysia. Ia merasa perjalanannya di Padang sudah menemui titik jenuh. Mendengar rencana kepindahan sang ulama besar, para niniak mamak merasa keberatan. Mereka tak ingin kehilangan sosok guru yang telah memberi warna spiritual bagi masyarakat Pauh.
Pembangunan Surau Baru
Sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya agar sang Syekh tetap tinggal, para tokoh adat ini membuat sebuah kesepakatan besar. Mereka berencana membangunkan sebuah tempat ibadah khusus bagi beliau. Kisah pembangunan ini tergolong luar biasa. Melalui semangat gotong royong yang kental, para niniak mamak berhasil merampungkan pembangunan sebuah surau hanya dalam waktu empat hari saja.
Surau Baru Sebagai Basis Pengembangan Tarekat Naqsabandiyah
Karena merupakan bangunan baru yang didirikan secara khusus, tempat ini kemudian dinamakan Surau Baru. Sejak tahun 1910, bangunan ini resmi menjadi basis utama pengembangan Tarekat Naqsabandiyah di Padang.
Keunikan Arsitektur Surau Baru
Ada satu keunikan arsitektur yang sangat ikonik pada masa awal berdirinya surau ini, yakni tiang penyangga yang sarat akan makna filosofis kehidupan manusia. Imam Surau Baru saat ini, Buya Zahar, menceritakan bahwa tiang tersebut memiliki tiga bentuk berbeda dalam satu kesatuan: lurus di bawah, bengkok di tengah, dan kembali lurus di bagian atas.
Kiasan Tiang Penyangga
“Tiang bawah yang lurus itu kiasan anak manusia di bawah umur 20 tahun yang masih jujur dan suci. Namun, saat memasuki umur 20-30 tahun, manusia mulai berperangai dan melakukan dosa, itulah simbol tiang yang bengkok,” jelas Buya Zahar. Ia melanjutkan, bagian tiang yang kembali lurus di bagian atas melambangkan fase usia di atas 30 tahun. Pada masa ini, manusia diharapkan mulai sadar, bertaubat, dan kembali ke jalan yang lurus sebelum akhir hayatnya.
Renovasi Surau Baru
Sayangnya, tiang bersejarah dengan kiasan mendalam itu kini tak lagi bisa dijumpai. Serangkaian renovasi demi menjaga keamanan dan kekokohan bangunan membuat tiang filosofis tersebut harus diganti dengan struktur yang lebih modern. Meski tiang aslinya telah hilang, semangat ajaran Syekh Muhammad Thaib tidak lantas luntur. Dari Surau Baru inilah lahir murid-murid hebat, termasuk Syafri Malin Mudo yang kemudian mendirikan Surau Baitul Makmur pada tahun 1989.
Surau Baru Hingga Saat Ini
Kini, Surau Baru tetap menjadi mercusuar bagi ribuan jemaah Naqsabandiyah di Sumatera Barat, khususnya dalam menentukan penanggalan hari besar Islam seperti penetapan Idul Fitri yang jatuh pada Kamis depan.